PLT KADISTANBUN GERAK CEPAT TINJAU LAHAN PERTANIAN YANG RUSAK AKIBAT BANJIR DI KECAMATAN PRINGGABAYA
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, total luas lahan pertanian yang terdampak mencapai 40,5 Hektar. Rinciannya meliputi 25 Ha tanaman padi, 10 Ha tanaman jagung, dan 5,5 Ha tanaman hortikultura berupa cabai dan tomat. Dua kelompok tani, yaitu Maju Karya II dan Pade Bareng, menanggung kerugian terbesar.
Merespons kejadian ini, Pejabat Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB Muhammad Riadi, didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur, PLT Kepala UPTD Balai Benih Induk Pertanian (BBIP), Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Distanbun NTB , serta perwakilan dari UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan (BPTP), langsung turun ke lokasi untuk meninjau dampak kerusakan dan berkoordinasi dengan POPT, PPL dan para petani.
Banjir ini dipicu oleh jebolnya tanggul pembatas Kali Tanggek yang diperparah dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Akibatnya, material pasir dan bebatuan dari sungai membanjiri dan menimbun lahan pertanian yang subur.
“Rata-rata tanaman berumur 60-90 Hari Setelah Tanam (HST) dan sudah mendekati panen. Kerugian petani sangat signifikan, tidak hanya dari hilangnya hasil panen, tetapi juga karena lahan tertimbun material yang membutuhkan proses reklamasi,” ujar Kadis Pertanian Lombok Timur di tengah tinjauannya.
Plt. Kadis Distanbun Provinsi NTB menyampaikan komitmennya untuk segera menyalurkan bantuan benih guna membantu petani memulai kembali masa tanam. Namun, ia menekankan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah pembersihan dan reklamasi lahan.
“Bantuan benih akan kami salurkan. Tetapi, prioritas saat ini adalah mengolah kembali lahan yang tertimbun pasir dan batu. Tanpa itu, penanaman kembali tidak bisa dilakukan,” jelasnya.
Sementara itu, Kadis Pertanian Lombok Timur menyatakan akan segera berkoordinasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Balai Besar Wilayah Sungai (BWS) untuk memperbaiki tanggul yang jebol.
“Jika tanggul tidak segera diperbaiki, areal seluas 25 hektar ini akan terus terendam dan terancam banjir kembali, terutama dengan musim hujan yang sudah di depan mata. Ini menjadi pekerjaan urgent kita bersama,” tegasnya.
Para petani yang terdampak menyambut positif langkah cepat pemerintah daerah ini. Mereka berharap perbaikan tanggul dan proses pemulihan lahan dapat dilakukan secepat mungkin.
“Kami sangat khawatir banjir akan terulang. Musim hujan sebentar lagi, kami mohon tanggul segera dibenahi. Kami ingin segera mengolah tanah kami lagi, tidak bisa berlama-lama menunggu,” tutur Nurdin, selaku ketua Kelompok Tani Maju Karya II, mewakili kegelisahan rekan-rekannya.
Koordinasi lintas sektor menjadi kunci untuk memulihkan kondisi lahan dan mengembalikan harapan petani di Desa Batuyang untuk dapat berproduksi kembali.
PLT KADISTANBUN GERAK CEPAT TINJAU LAHAN PERTANIAN YANG RUSAK AKIBAT BANJIR DI KECAMATAN PRINGGABAYA
Lombok Timur, 20 September 2025. Ancaman gagal panen menghantui puluhan petani di Desa Batuyang, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, setelah banjir bandang menerjang kawasan persawahan mereka pada Kamis malam (18/09/2025). Air yang berasal dari luapan Kali Tanggek tersebut merusak tanaman yang sebagian besar akan memasuki masa panen.
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, total luas lahan pertanian yang terdampak mencapai 40,5 Hektar. Rinciannya meliputi 25 Ha tanaman padi, 10 Ha tanaman jagung, dan 5,5 Ha tanaman hortikultura berupa cabai dan tomat. Dua kelompok tani, yaitu Maju Karya II dan Pade Bareng, menanggung kerugian terbesar.
Merespons kejadian ini, Pejabat Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB Muhammad Riadi, didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur, PLT Kepala UPTD Balai Benih Induk Pertanian (BBIP), Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Distanbun NTB , serta perwakilan dari UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan (BPTP), langsung turun ke lokasi untuk meninjau dampak kerusakan dan berkoordinasi dengan POPT, PPL dan para petani.
Banjir ini dipicu oleh jebolnya tanggul pembatas Kali Tanggek yang diperparah dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Akibatnya, material pasir dan bebatuan dari sungai membanjiri dan menimbun lahan pertanian yang subur.
“Rata-rata tanaman berumur 60-90 Hari Setelah Tanam (HST) dan sudah mendekati panen. Kerugian petani sangat signifikan, tidak hanya dari hilangnya hasil panen, tetapi juga karena lahan tertimbun material yang membutuhkan proses reklamasi,” ujar Kadis Pertanian Lombok Timur di tengah tinjauannya.
Plt. Kadis Distanbun Provinsi NTB menyampaikan komitmennya untuk segera menyalurkan bantuan benih guna membantu petani memulai kembali masa tanam. Namun, ia menekankan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah pembersihan dan reklamasi lahan.
“Bantuan benih akan kami salurkan. Tetapi, prioritas saat ini adalah mengolah kembali lahan yang tertimbun pasir dan batu. Tanpa itu, penanaman kembali tidak bisa dilakukan,” jelasnya.
Sementara itu, Kadis Pertanian Lombok Timur menyatakan akan segera berkoordinasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Balai Besar Wilayah Sungai (BWS) untuk memperbaiki tanggul yang jebol.
“Jika tanggul tidak segera diperbaiki, areal seluas 25 hektar ini akan terus terendam dan terancam banjir kembali, terutama dengan musim hujan yang sudah di depan mata. Ini menjadi pekerjaan urgent kita bersama,” tegasnya.
Para petani yang terdampak menyambut positif langkah cepat pemerintah daerah ini. Mereka berharap perbaikan tanggul dan proses pemulihan lahan dapat dilakukan secepat mungkin.
“Kami sangat khawatir banjir akan terulang. Musim hujan sebentar lagi, kami mohon tanggul segera dibenahi. Kami ingin segera mengolah tanah kami lagi, tidak bisa berlama-lama menunggu,” tutur Nurdin, selaku ketua Kelompok Tani Maju Karya II, mewakili kegelisahan rekan-rekannya.
Koordinasi lintas sektor menjadi kunci untuk memulihkan kondisi lahan dan mengembalikan harapan petani di Desa Batuyang untuk dapat berproduksi kembali.








