BERLANJUT !! GIAT BAPELTANBUN DALAM SEKOLAH LAPANG TEMBAKAU DI KABUPATEN LOMBOK UTARA
Desa Rempek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara – Selasa, 22 Oktober 2024 – Sekolah Lapang (SL) Peningkatan Produksi dan Kualitas Tanaman Tembakau di kelompok tani Subak Bedugul kembali menggelar sesi pembelajaran yang ke-9. Kegiatan ini dihadiri oleh para petani lokal yang antusias untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam budidaya tembakau.
Pada pembelajaran kali ini, Tim Bapeltanbun yang terdiri dari widyaiswara dan penyuluh pertanian memimpin sesi praktek pembuatan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). PGPR merupakan teknologi ramah lingkungan yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan produktivitas pertanian dengan memanfaatkan mikroba tanah.

Peserta diajarkan langkah-langkah pembuatan PGPR menggunakan bahan-bahan alami yang mudah diakses. Proses dimulai dengan pengumpulan serasah akar bambu, yang direndam selama 2 hingga 4 hari. Selain akar bambu, bahan lain yang digunakan termasuk 200 gram gula sebagai sumber glukosa, 100 gram terasi alami yang kaya protein, ½ kg dedak halus, 15 liter air bersih, dan 1 sendok teh kapur mati.
Setelah semua bahan dimasak dan didinginkan, mereka dicampurkan dengan biang bakteri. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam jerigen dan difermentasi selama sekitar 14 hari. Selama proses fermentasi, akan muncul aroma khas bakteri yang menandakan bahwa PGPR sedang diproduksi.

PGPR memiliki berbagai manfaat yang signifikan bagi pertanian. Selain berfungsi sebagai bioprotectant yang menekan perkembangan penyakit, PGPR juga berperan sebagai biostimulant dengan menghasilkan hormon pertumbuhan dan sebagai biofertilizer yang meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman. Sumber PGPR yang efektif dapat diambil dari akar rumput-rumputan, putri malu, dan akar bambu yang tumbuh subur tanpa terserang hama atau penyakit.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan praktis, tetapi juga memperkenalkan metode pertanian berkelanjutan yang dapat membantu petani dalam mengatasi tantangan yang dihadapi di lapangan.
Setelah sesi praktek pembuatan PGPR, para peserta melanjutkan dengan materi tentang penyimpanan tembakau, yang merupakan aspek penting dalam menjaga kualitas hasil panen. Dengan pengetahuan yang diperoleh dari sesi ini, diharapkan para petani dapat mengoptimalkan metode penyimpanan untuk memaksimalkan kualitas tembakau sebelum dipasarkan.

Kegiatan Sekolah Lapang ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga menciptakan komunitas yang saling mendukung antar petani. Dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman, diharapkan produktivitas dan kualitas tanaman tembakau di Desa Rempek dapat meningkat secara signifikan.
Inisiatif ini merupakan langkah maju dalam pengembangan pertanian yang berkelanjutan, sekaligus memberikan harapan baru bagi para petani tembakau di Lombok Utara. Melalui teknologi yang ramah lingkungan dan pendekatan berbasis komunitas, diharapkan sektor pertanian lokal dapat terus tumbuh dan berkembang.
