Artikel by Admin

2019-02-13 07:51:13



Hilirisasi Pertanian Diperkuat

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Ir. H. Husnul Fauzi, M. Si menyadari betapa sektor pertanian dan perkebunan sangat berperan penting menopang ekonomi provinsi ini, setelah ekspor tambang belum bisa diharapkan, demikian juga sektor pariwisata pascagempa.

Sektor pertanian dan perkebunan adalah sektor strategis. Sumbangannya terhadap PDRB NTB sebesar 24 persen dari total nilai PDRB sebesar Rp100 triliun. Share-nya tidak kecil. Karena itulah, kontribusinya menopang ekonomi NTB dapat diperkuat dengan memaksimalkan hilirisasi.

Dari sisi produksi, kata H. Husnul, sektor Pertanian dan Perkebunan telah dilakukan secara paripurna. Demikian juga hasilnya. Salah satu contoh, target produksi padi tahun 2018 lalu sebanyak 2,644,616 ton Gabah Kering Giling (GKG), tercapai sebesar 2,549,716 ton. Demikian juga jagung, targetnya 2,084,935 ton, terpenuhi 2,059,222 ton. Demikian juga komoditas perkebunan dan hortikultura lainnya.

"Pertanian dan perkebunan memberi kontribusi terhadap PDRB pergerakannya sangat massif. Bahwa kita paripurna dalam produksi, khususnya pangan pokok. Karena itu yang perlu sekali, kami harus bersinergi dan terintegrasi dengan sektor lain. Dalam rangka memberikan nilai tambah kepada petani," kata H. Husnul kepada Suara NTB di Mataram, Selasa, 29 Januari 2019 kemarin.

Sinergi yang kuat salah satu contohnya dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan), bagaimana pengembangan kampung-kampung unggas dilakukan secara massif. Sehingga produksi jagung dapat terserap untuk memenuhi kebutuhan pakan.

Oleh karena itu, dilakukan program terintegrasi antara Dinas Pertanian Perkebunan dengan Disnakeswan, Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, termasuk dengan Perum Bulog dan stakeholders lainnya. Dengan Dinas Perindustrian, diharapkan melalui UPTnya, Science Technology Industrial Park (STIP) Banyumulek, dapat melahirkan SDM-SDM yang siap melakukan hiliriasi terhadap seluruh potensi produksi sumber daya alam di dalam daerah. Apalagi pimpinan daerah, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah, memberikan perhatian penuh terhadap kegiatan hilirisasi produk di dalam daerah. Dengan mengembangkan industri skala rumahan.

Saat ini dibutuhkan investasi untuk seluruh usaha turunan produksi pertanian dan perkebunan. Misalnya, untuk padi dibutuhkan RMU yang modern agar hasil produksi beras dari NTB dapat dikemas dan langsung mengisi pasar. Tanpa harus dikirim terlebih dahulu keluar daerah. Demikian juga pengembangan hasil produksi jagung menjadi pakan ternak, H. Husnul mengatakan dalam beberapa kesempatan menawarkan investor untuk masuk.

Soal program, untuk 2019 ini secara umum tetap mengarahkan kepada peningkatakan produksi, kualitas dan produktivitas. Koordinasi dengan kabupaten kota intens dilakukan untuk mencapai target-target produksinya.

Di NTB jumlah petani mencapai 43 persen, dari total 4,7 juta jiwa penduduk NTB. Ketergantungan terhadap sektor ini sangat besar. Karena itulah, tidak ada cara lain untuk memberikannya nilai tambah selain dengan bersama-sama memperkuat hilirisasi.